
Budaya Nusa Tenggara Timur
Provinsi NTT kaya akan ragam budaya baik bahasa maupun suku bangsanya seperti tertera dalam di bawah ini:
Jumlah Bahasa Daerah
Jumlah bahasa yang dimiliki cukup banyak dan tersebar pada pulau-pulau yang ada yaitu:
Pengguna Bahasa di Nusa Tenggara Timur
Timor, Rote, Sabu, dan pulau-pulau kecil disekitarnya: Bahasanya
menggunakan bahasa Kupang, Melayu Kupang, Dawan Amarasi, Helong Rote,
Sabu, Tetun, Bural:
Alor dan pulau-pulau disekitarnya:
Bahasanya menggunakan Tewo kedebang, Blagar, Lamuan Abui, Adeng, Katola,
Taangla, Pui, Kolana, Kui, Pura Kang Samila, Kule, Aluru, Kayu Kaileso
Flores dan pulau-pulau disekitarnya: Bahasanya menggunakan melayu,
Laratuka, Lamaholot, Kedang, Krawe, Palue, Sikka, lio, Lio Ende, Naga
Keo, Ngada, Ramba, Ruteng, Manggarai, bajo, Komodo
Sumba dan
pualu-ulau kecil disekitarnya: Bahasanya menggunakan Kambera, Wewewa,
Anakalang, Lamboya, Mamboro, Wanokaka, Loli, Kodi
Jumlah Suku /Etnis
Penduduk asli NTT terdiri dari berbagai suku yang mendiami daerah-daerah yang tersebar Diseluruh wilayah NTT, sebagai berikut:
Helong: Sebagian wilayah Kabupaten Kupang (Kec.Kupang Tengah dan Kupang Barat serta Semau)
Dawan: Sebagian wilayah Kupang (Kec. Amarasi, Amfoang, Kupang Timur,
Kupang Tengah, Kab timor Tengah selatan, Timor Tengah Utara, Belu (
bagian perbatasan dengan TTU)
Tetun: Sebagian besar Kab. Belu dan wilayah Negara Timor Leste
Kemak: Sebagian kecil Kab. Belu dan wilayah Negara Timor Leste
Marae: Sebagian kecil Kab. Belu bagian utara dekat dengan perbatasan dengan
Negara Timor Leste
Rote: Sebagian besar pulau rote dan sepanjang pantai utara Kab Kupang dan pulau
Semau
Sabu / Rae Havu: Pulau Sabu dan Raijua serta beberapa daerah di Sumba
Sumba: Pulau Sumba
Manggarai Riung: Pulau Flores bagian barat terutama Kan Manggarai dan Manggarai
Barat
Ngada: Sebagian besar Kab Ngada
Ende Lio: Kabupaten Ende
Sikka-Krowe Muhang: Kabupaten Sikka
Lamaholor: Kabupaten Flores Timur meliputi Pulau Adonara, Pulau Solor dan
sebagian Pulau Lomblen
Kedang: Ujung Timur Pulau Lomblen
Labala: Ujung selatan Pulau Lomblen
Pulau Alor: Pulau Alor dan pulau Pantar.
BUDAYA FLORES TIMUR
Flotim
merupakan wilayah kepulauan dengan luas 3079,23 km2, berbatasan dengan
kabupaten Alor di timur, kabupaten Sikka di barat utara dengan laut
Flores dan selatan, laut Sawu.
Orang yang berasal dari Flores Timur sering disebut orang Lamaholot, karena bahasa yang digunakan bahasa suku Lamaholot.
Konsep
rumah adat orang Flotim selalu dianggap sebagai pusat kegiatan ritual
suku. Rumah adat dijadikan tempat untuk menghormati Lera Wulan Tana Ekan
(wujud tertinggi yang mengciptakan dan yang empunya bumi).
Pelapisan
social masyarakat tergantung pada awal mula kedatangan penduduk
pertama, karena itu dikenal adanya tuan tanah yang memutuskan segala
sesuatu, membagi tanah kepada suku Mehen yang tiba kemudian, disusul
suku Ketawo yang memperoleh hak tinggal dan mengolah tanah dari suku
Mehen.
Suku Mehen mempertahankan eksistensinya yang dinilainya
sebagai tuan tanah, jadilah mereka pendekar-pendekar perang, yang
dibantu suku Ketawo.
Mata pencaharian orang Flotim/Lamaholot yang utama terlihat dalam ungkapan sebagai berikut:
Ola tugu,here happen, lLua watana,
Gere Kiwan, Pau kewa heka ana,
Geleka lewo gewayan, toran murin laran.
Artinya:
Bekerja
di ladang, Mengiris tuak, berkerang (mencari siput dilaut), berkarya di
gunung, melayani/memberi hidup keluarga (istri dan anak-anak) mengabdi
kepada pertiwi/tanah air, menerima tamu asing.
BUDAYA SIKKA
Sikka
berbatasan sebelah utara dengan laut Flores, sebelah selatan dengan
Laut Sabu, dan sebelah timur dengan kabupaten Flores Timur, bagian barat
dengan kabupaten Ende. Luas wilayah kabupaten Sikka 1731,9 km2.
Ibu
kota Sikka ialah Maumere yang terletak menghadap ke pantai utara, laut
Flores. Konon nama Sikka berasal dari nama suatu tempat dikawasan
Indocina. Sikka dan dari sinilah kemungkinan bermula orang berimigrasi
kewilayah nusantara menuju ke timur dan menetap disebuah desa pantai
selatan yakni Sikka. Nama ini Kemudian menjadi pemukiman pertama
penduduk asli Sikka di kecamatan Lela sekarang. Turunan ini bakal
menjadi tuan tanah di wilayah ini.
Pelapisan sosial dari
masyarakat Sikka. Lapisan atas disebut sebagai Ine Gete Ama Gahar yang
terdiri para raja dan bangsawan. Tanda umum pelapisan itu di zaman
dahulu ialah memiliki warisan pemerintahan tradisional kemasyarakatan,
di samping pemilikan harta warisa keluarga maupun nenek moyangnya.
Lapisan kedua ialah Ata Rinung dengan ciri pelapisan melaksanakan fungsi
bantuan terhadap para bangsawan dan melanjutkan semua amanat terhadap
masyarakat biasa/orang kebanyakan umumnya yang dikenal sebagai lapisan
ketiga yakni Mepu atau Maha.
Secara umum masyarakat kabupaten
Sikka terinci atas beberapa nama suku; (1) ata Sikka, (2) ata Krowe, (3)
ata Tana ai, desamping itu dikenal juga suku-suku pendatang yaitu: (4)
ata Goan, (5) ata Lua, (6) ata Lio, (7) ata Ende, (8) ata Sina, (9) ata
Sabu/Rote, (10) ata Bura.
Mata pencaharian masyarakat Sikka
umumnya pertanian. Adapun kelender pertanian sbb: Bulan Wulan Waran -
More Duru (Okt-Nov) yaitu bulan untuk membersihkan kebun, menanam,
menyusul di bulan Bleke Gete-Bleke Doi - Kowo (Januari, Pebuari, Maret)
masa untuk menyiangi kebun (padi dan jagung) serta memetik, dalam bulan
Balu Goit - Balu Epan - Blepo (April s/d Juni) masa untuk memetik dan
menanam palawija /kacang-kacangan. Sedangkan pada akhir kelender kerja
pertanian yaitu bulan Pupun Porun Blebe Oin Ali-Ilin (Agustus -
September).
BUDAYA ENDE
Batas-batas wilayahnya yang
membentang dari pantai utara ke selatan itu adalah dibagian timur dengan
kabupaten Sikka, bagian barat dengan kabupaten Ngada, utara dengan laut
Flores, selatan dengan laut Sabu. Luas kabupaten Ende 2046,6 km2, iklim
daerah ini pada umumnya tropis dengan curah hujan rata-rata 6096
mm/tahun dengan rata rata jumlah hari hujan terbanyak pada bulan
November s/d Januari.
Daerah yang paling terbanyak mendapat hujan
adalah wilayah tengah seperti kawasan gunung Kalimutu, Detusoko,
Welamosa yang berkisar antara 1700 mm s/d 4000 mm/tahun.
Nama
Ende sendiri konon ada yang menyebutkannya sebagai Endeh, Nusa Ende,
atau dalam literatur kuno menyebut Inde atau Ynde. Ada dugaan yang kuat
bahwa nama itu mungkin sekali diberikan sekitar abad ke 14 pada waktu
orang-orang maleyu memperdagangkan tenunan besar nan mahal yakni Tjindai
sejenis sarung patola dalam pelayaran perdagangan mereka ke Ende.
Ende/Lio
sering disebut dalam satu kesatuan nama yang tidak dapat dipisahkan.
Meskipun demikian sikap ego dalam menyebutkan diri sendiri seperti : Jao
Ata Ende atau Aku ata Lio dapat menunjukan sebenarnya ada batas-batas
yang jelas antara ciri khas kedua sebutan itu.
Meskipun secara
administrasi masyarakat yang disebut Ende/Lio bermukim dalam batas yang
jelas seperti tersebut di atas tetapi dalam kenyataan wilayah kebudayaan
(tereitorial kultur) nampaknya lebih luas Lio dari pada Ende.
Pola
pemukiman masyarakat baik di Ende maupun Lio umumnya pada mula dari
keluarga batih/inti baba (bapak), ine (mama) dan ana (anak-anak)
kemudian diperluas sesudah menikah maka anak laki-laki tetap bermukim di
rumah induk ataupun sekitar rumah induk. Rumah sendiri umumnya secara
tradisional terbuat dari bambu beratap daun rumbia maupun alang-alang.
Lapisan
bangsawan masyarakat Lio disebut Mosalaki ria bewa, lapisan bansawan
menengah disebut Mosalaki puu dan Tuke sani untuk masyarakat biasa.
Sedangkan masyarakat Ende bangsawan disebut Ata NggaE, turunan raja Ata
Nggae Mere, lapisan menegah disebut Ata Hoo dan budak dati Ata Hoo
disebut Hoo Tai Manu.
BUDAYA NGADA
Ngada merupakan kabupaten
yang terletak diantara kabupaten Ende (di timur) dan Manggarai (di
barat). Bajawa ibu kotanya terletak di atas bukit kira-kira 1000 meter
di atas permukaan laut. Masyarakat ini dikenal empat kesatuan adat
(kelompok etnis) yang memiliki pelbagai tanda-tanda kesatuan yang
berbeda.
Kesatuan adat tersebut adalah : (1) Nagekeo, (2) Ngada,
(3) Riung, (4) Soa. Masing-masing kesatuan adat mempertahankan ciri
kekrabatannya dengan mendukung semacam tanda kesatuan mereka.
Arti
keluarga kekrabatan dalam masyarakat Ngada umumnya selain terdekat
dalam bentuk keluarga inti Sao maka keluarga yang lebih luas satu simbol
dalam pemersatu
(satu Peo, satu Ngadhu, dan Bagha). Ikatan nama
membawa hak-hak dan kewajiban tertentu. Contoh setiap anggota kekrabatan
dari kesatuan adat istiadat harus taat kepada kepala suku, terutama
atas tanah. Setiap masyarakat pendukung mempunyai sebuah rumah pokok
(rumah adat) dengan seorang yang mengepalai bagian pangkal Ngadhu ulu
Sao Saka puu.
Rumah tradisional disebut juga Sao, bahan rumah
terbuat seperti di Ende/Lio (dinding atap, dan lantai /panggungnya).
Secara tradisional rumah adat ditandai dengan Weti (ukiran). Ukiran
terdiri dari tingkatan-tingkatan misalnya Keka, Sao Keka, Sao Lipi Wisu,
Sao Dawu Ngongo, Sao Weti Sagere, Sao Rika Rapo, Sao Lia Roda.
Pelapisan
sosial teratas disebut Ata Gae, lapisan menengah disebut Gae Kisa, dan
pelapisan terbawah disebut Ata Hoo. Sumber lain menyebutkan pelapisan
sosial biasa dibagi atas tiga, Gae (bangsawan), Gae Kisa = kuju, dan
golongan rendah (budak). Ada pula yang membagi atas empat strata, Gae
(bangsawan pertama), Pati (bangsawan kedua) Baja (bangsawan ketiga), dan
Bheku (bangsawan keempat).
Para istri dari setiap pelapisan
terutama pelapisan atas dan menengah disebut saja Inegae/Finegae dengan
tugas utama menjadi kepala rumah yang memutuskan segala sesuatu di rumah
mulai pemasukan dan pengeluaran.
Masyarakat Nagekeo pendukung
kebudayaan Paruwitu (kebudayaan berburu), masyarakat Soa pendukung Reba
(kebudayaan tahun baru, pesta panen), Pendukung kebudayaan bertani dalam
arti yang lebih luas ialah Ngadhu/Peo, terjadi pada sebagian kesatuan
adat Nagekeo, Riung, Soa dan Ngada.
BUDAYA MANGGARAI
Manggarai
terletak di ujung barat pulau Flores, berbatasan sebelah timur dengan
kabupaten Ngada, barat dengan Sealat sapepulau Sumbawa/kabupaten Bima,
utara dengan laut Flores dan selatan dengan laut Sabu.
Luas
wilayah 7136,14 km2, wilayah ini dapat dikatakan paling subur di NTT.
Areal pertanian amat luas dan subur, perkebunan kopi yang membentang
disebahagian wilayahnya, curah hujan yang tinggi yaitu dalam setahun
mencapai 27,574 mm, sepertiga dari jumlah itu (lebih dari 7000mm) turun
pada bulan Januari.
Ibu kota Manggarai terletak kira-kira 1200 meter di atas permukaan laut, di bawa kaki gunung Pocoranaka
Pembentukan
keluarga batih terdiri dari bapak, mama dan anak-anak yang disebut Cak
Kilo. Perluasan Cak Kilo membentuk klen kecil Kilo, kemudian klen sedang
Panga dan klen besar Wau.
Beberapa istilah yang dikenal dalam
sistim kekrabatan antara lain Wae Tua (turunan dari kakak), Wae Koe
(turunan dari adik), Ana Rona (turunan keluarga mama), Ana Wina (turunan
keluarga saudara perempuan), Amang (saudara lelaki mama), Inang
(saudara perempuan bapak), Ema Koe (adik dari bapak), Ema Tua (kakak
dari bapak), Ende Koe (adik dari mama), Ende Tua (kakak dari mama), Ema
(bapak), Ende (mama), Kae (kakak), Ase (adik), Nana (saudara lelaki),
dan Enu (saudara wanita atau istri).
Strata masyarakat Manggarai
terdiri atas 3 golongan, kelas pertama disebut Kraeng (Raja/bangsawan),
kelas kedua Gelarang ( kelas menengah), dan golongan ketiga Lengge
(rakyat jelata).
Raja mempunyai kekuasaan yang absolut, upeti yang
tidak dapat dibayar oleh rakyat diharuskan bekerja rodi. Kaum Gelarang
bertugas memungut upeti dari Lengge (rakyat jelata). Kaum Gelarang ini
merupakan penjaga tanah raja dan sebagai kaum penyambung lidah antara
golongan Kraeng dengan Lengge. Status Lengge adalah status yang selalu
terancam. Kelompok ini harus selalu bayar pajak, pekerja rodi, dan
berkemungkinan besar menjadi hamba sahaya yang sewaktu-waktu dapat
dibawah ke Bima dan sangat kecil sekali dapat kembali melihat tempat
kelahirannya.